PENDISTRIBUSIAN RELATIF LANCAR ; Tidak Semua Migor Bersubsidi Terserap Masyarakat
YOGYA (KR) - Penyaluran minyak goreng (migor) bersubsidi di Kota Yogyakarta, Rabu (16/4) berlangsung lancar dan tidak ada kendala berarti. Meski demikian, tidak seluruh migor yang disediakan terserap masyarakat.
“Tidak ada masalah dalam pendistribusian migor hari ini yang diawali di 5 kelurahan yakni Kricak dan Bener di Kecamatan Tegalrejo serta Keparakan, Wirogunan dan Brontokusuman di Kecamatan Mergangsan. Tapi tidak semua dari 3.506 liter minyak yang disalurkan terserap, masih ada sisa di beberapa lokasi,” ucap Kasi Pengawasan Disperindagkop Kota Yogya Imam Nurwahid kepada KR usai peninjauan ke lokasi.
Misalnya di Kelurahan Kricak, dari 1.012 liter migor yang disediakan, terserap 948 liter. Di Kelurahan Bener, dari 373 liter, masih ada sekitar 27 liter. Demikian pula di Wirogunan yang menyediakan 760 liter, tersisa 97 liter. “Ya kalau di rata-rata, sekitar 90 persen migor bersubsidi yang terserap masyarakat,” tutur Imam. Untuk migor yang tidak terserap, langsung dibawa kembali distributor sebagai saving penyaluran tahap selanjutnya.
Sementara itu dari pantauan KR di lokasi distribusi, masyarakat tampak memadati lokasi. Lurah Wirogunan, Suprihastuti mengatakan masyarakat menyambut baik adanya subsidi ini, terbukti dari berjubelnya warga. Umar, warga Surokarsan mengaku gembira dengan kualitas migor yang bagus apalagi tanpa mengeluarkan biaya transport untuk mengambilnya, karena rumahnya dekat dengan kelurahan. Sementara Candra meminta harga migor bersubsidi diturunkan hingga Rp 5 ribu bukan Rp 8 ribu sehingga warga miskin bisa mengambil semua. “Apalagi migor yang diberikan kualitasnya bukan kualitas I, sehingga harga seharusnya lebih rendah lagi,” katanya..
Pembagian Lewat RW
Untuk mengurangi antrean panjang, distribusi migor bersubsidi di Kelurahan Kricak dilakukan tiap RW. Sehingga total 13 RW yang melaksanakan pembagian migor bersubsidi. Warga juga sudah membayar bersamaan pembagian kupon sehingga pada hari H pelaksanaan tinggal mengambil jatah.
Lurah Kricak Budi Santoso menuturkan, pembagian melalui RW lebih aman dan menjamin tepat sasaran. Sebab Ketua RW tahu betul masing-masing warganya. “Dengan melalui pengurus RW, warga dari luar wilayah tidak bisa ikut beli. Sedang pembayaran dilakukan saat pembagian kupon memudahkan warga karena hari H tinggal mengambil jatah di masing-masing RW,” katanya.
Dari pantauan KR ada sebagian warga yang tidak mengambil sendiri jatah kuponnya namun dititipkan. Warga mengaku kualitas migor bersubsidi cukup bagus dibanding tahun lalu. Harganya juga masih terjangkau karena di pasaran harga migor dengan kualitas sama mencapai Rp 12 ribu per liter.
Komisi B dan Ketua DPRD DIY Djuwarto yang meninjau penyaluran migor bersubsidi di Kecamatan Kricak Tegalrejo juga mengatakan pelaksanaan lancar dan warga bisa membeli minyak seharga Rp 8 ribu per liter. Esti Wijayati, anggota Komisi B DPRD DIY meminta masyarakat untuk mengerti meski hanya menerima 1 liter padahal dalam ketentuan 2 litier per KK per bulan. “Namun alokasi migor yang diterima tak bisa mencukupi seluruh KK miskin di DIY. Namun masyarakat akan menerima 2 liter per KK Juli mendatang,” katanya.
Selanjutnya, Esti meminta pemerintah memikirkan UMKM yang banyak menggunakan migor dalam usahanya, misalnya saja melalui subsidi migor seperti UMKM tahu/tempe yang memperoleh subsidi kedelai.
Subsidi migor bagi UMKM harus menjadi bagian kebijakan karena pemerintah pusat tak membatasi penerima subsidi dan UMKM boleh menerima anggaran subsidi migor. “Soal ini tergantung kebijakan kabupaten/kota. Kami minta Pemprop berkoordinasi, agar UMKM memperoleh subsidi migor ini,” terangnya.


