KhasJogja – semua yang khas dari jogja

jogjaku, jogjamu, jogjakita

Archive for March 2008

Kalender Jawa dan Pengaruh Alam Terhadap Manusia

without comments

Dasar pembuatan Kalender

Kalender atau Penanggalan adalah suatu cara yang disepakati untuk menandai unsur rentang waktu. Perhitungannya dapat berdasarkan pada gerakan matahari (kalender solar) dan gerakan bulan (kalender lunar). Ada juga kalender yang tidak berdasarkan gerakan benda langit dan hanya berupa penghitungan matematis seperti Kalender Pawukon. Patokan kalender adalah hari, bulan dan tahun. Hari dihitung berdasarkan waktu putaran bumi pada porosnya dengan rentang waktu 24 jam. Bulan dihitung berdasarkan revolusi (putaran) bulan mengelilingi bumi dengan rentang waktu 1 bulan. Tahun dihitung berdasarkan revolusi (putaran) bumi mengelilingi matahari dengan rentang waktu 1 tahun. Kalender solar mempunyai rentang waktu 365.242819 hari untuk setiap putaran, yang dibulatkan menjadi 365 ¼ hari, sehingga dalam 1 tahun ada 365 hari dan setiap empat tahun ada tahun kabisat yang berumur 366 hari. Kalender lunar mempunyai rentang waktu 354.36707 hari yang dibulatkan dalam Kalender Jawa menjadi 354 3/8, sehingga 1 tahun Jawa ada 354 hari dan dalam 8 tahunan (windu) ada 3 tahun kabisat yang berumur 355 hari. Dalam perkiraan Kalender Hijriah 1 tahun dibulatkan menjadi 354 11/30 yang artinya dalam 30 tahun terdapat 11 tahun kabisat yang berumur 355 hari. Kalender Gregorian (Kalender Tahun Masehi yang dipakai secara internasional) dan Kalender Jawa dihitung berdasarkan matematis, sedangkan Kalender Hijriyah dan Kalender China menggunakan cara astronomis dengan melihat posisi bulan.

Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pasar yang terdiri dari 5 hari pasaran. Menurut Wikipedia, pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender lunar, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun saat itu 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Pada tahun 1855 Masehi, karena penanggalan lunar dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam, maka kalender berdasarkan rasi bintang yang berpengaruh pada musim tanam yang disebut sebagai Pranata Mangsa, dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV dan digunakan secara resmi. Contohnya adalah rasi bintang Waluku (Orion) sebagai tanda musim tanam. Sebenarnya Pranata Mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada jaman pra-Sultan Agung. Oleh Sri Paduka Mangkunagara IV tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender solar.

Pengaruh bulan dan matahari terhadap manusia

Para nenek moyang mempercayai, bahwa tidak ada hari-hari penting seperti kelahiran, perkawinan dan kematian secara kebetulan. Hukum sebab-akibat akan mempengaruhi, yang diujudkan dalam posisi benda-benda langit terhadap suatu kejadian. Setiap kejadian pasti sedikit banyak dipengaruhi oleh pengaruh bulan, pengaruh matahari dan pengaruh alam lainnya. Kombinasi dari pengaruh matahari (ada 7 hari mulai Senin hingga Minggu) dan pengaruh bulan (ada 5 hari pasar, Legi, Paing, Pon Wage, Kliwon), diamati dalam jangka waktu lama. Ada 35 kombinasi, dan waktu 35 hari dimana hari dan hari pasar berulang disebut ”satu lapan”. Dari intuisi para nenek moyang tersebut muncullah ramalan tentang potensi sifat seseorang berdasar hari kelahiran atau ”weton”. Orang yang lahir hari Minggu Wage akan mempunyai potensi tabiat dasar yang dipengaruhi oleh posisi matahari pada hari Minggu dan posisi bulan pada hari pasaran Wage. Waktu jam kelahiran juga berpengaruh, seperti Presiden Pertama RI yang bangga disebut sebagai Putera Sang Fajar karena lahir pada waktu matahari akan terbit. Disebutkan juga dalam dongeng-dongeng lama bahwa hujan, guntur dan kejadian alam lain juga mempengaruhi kelahiran. Untuk menghormati hari kelahiran, Orang Jawa biasa berpuasa apit weton yaitu puasa satu hari sebelum, pada, dan sesudah weton. Pada saat hari weton suami atau weton istri diusahakan tidak berhubungan badan. Ada yang berpendapat bahwa masa bayi di dalam kandungan adalah 280 hari, atau 9 bulan 10 hari, sama dengan 8 ”lapan” (8×35 hari). Apabila sel telur berhasil dibuahi benih pada hari weton, maka anak yang lahir akan sama weton dengan orang tuanya, yang menurut pengamatan biasanya menjadi kurang akur pada saat dewasa.Sebagian yang lain berpendapat agar tidak berhubungan badan pada hari weton untuk menghormati diri kita sendiri. Kebersihan dan penempatan ari-ari atau placenta bayi juga berpengaruh, sehingga ari-ari selalu dicuci sampai bersih. Ada bayi yang ari-arinya dipersembahkan kepada hewan-hewan air di Kali atau Bengawan yang merupakan penghormatan kepada Penguasa Unsur Air, ada juga yang dipersembahkan kepada hewan-hewan dalam tanah dengan jalan dipendam di halaman rumah yang merupakan persembahan kepada Penguasa Unsur Bumi. Diatas tempat memendam dinyalakan ”teplok”(lampu minyak tanah) yang selalu dijaga dan menyala selama ”selapan” agar tidak ada hewan luar yang mengganggu dan merupakan persembahan kepada Penguasa Unsur Api. Apapun semuanya dipersembahkan kepada Yang Maha Kuasa. Agar anak yang lahir akur dengan saudaranya, maka ari-arinya ditaruh dalam kendil (tembikar dari tanah liat) yang sama, dengan cara ari-ari anak pertama ditaruh dalam kendil dan dipendam dalam tanah. Setelah diperkirakan unsur-unsurnya sudah terurai maka kendilnya diambil, dibersihkan, dan disimpan untuk dipakai anak yang lahir selanjutnya. Potongan ari-ari dari Pusar Bayi juga disimpan sebagai obat kalau Si Bayi menderita sakit. Ari-ari dipahami sebagai sel induk, sel asal sang bayi yang akhirnya berkembang menjadi tubuh dengan organ lengkap. Pada waktu pembuatan anak yang diistilahkan dengan mengukir, sering dipasang gambar tokoh yang diidolakan orang tua, misalnya Gambar Bung Karno. Mereka yakin gambar tersebut akan mempengaruhi sifat anak yang sedang diukir. Vibrasi pikiran kedua orang tua kepada Sang Idola dapat mempengaruhi telur dan sperma yang akan bertemu.

Bumi terdiri dari 70% air demikian pula tubuh manusia juga mengandung 70% air. Masuk diakal kalau bumi dipengaruhi oleh posisi benda-benda langit, demikian pula manusia. Saat ini akibat ulah manusia, terjadi pemanasan global yang mengakibatkan bumi mencari keseimbangan, sehingga terjadi perubahan iklim. Demikian pula tindakan tidak selaras manusia dengan alam akan mengakibatkan perubahan keseimbangan dalam diri manusia. Terima kasih Guruji yang dengan penuh kasih menyelaraskan kita semua dengan alam.

Triwidodo

Agustus 2007.

 

Written by idiel

March 9, 2008 at 12:02 pm

Posted in News

Tagged with ,

SAYEMBARA POSTER KOTA DALAM TAMAN

with one comment

Mendukung terwujudnya Kota Yogyakarta ramah lingkungan dengan fokus
menjadikan “Jogja Kota Dalam Taman”, Pemerintah Kota Yogyakarta
menyelenggarakan sayembara poster dengan tema Kota Dalam Taman. Sayembara
terbuka bagi siswa SD, SMP, SMA/SMK dan Umum dengan total hadiah sebesar
13.500.000 rupiah. Peserta dapat memilih sub tema tentang Penghijauan
Kota, Hemat Air atau Kebersihan Kota.
Menurut Ketua Panitia, Ir. Benny Nurhantoro, kegiatan ini diselenggarakan
untuk mendukung kualitas lingkungan di Kota Yogyakarta dan diharapkan
dapat meningkatkan kemampuan siswa berkreasi dalam bidang poster. Kriteria
karya poster dibuat dengan media kertas ivory berukuran kwarto dengan
bahan bebas. Karya tidak boleh berupa komputer grafis.
Hasil karya poster dapat diserahkan ke Sekretariat Sayembara secara
perorangan atau kolektif mulai tanggal 11 s/d 25 Maret 2008 setiap hari
kerja pukul 08.00 s/d 13.00 WIB. Pengumpulan karya poster paling lambat
tanggal 25 Maret 2008 pukul 13.00 WIB di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta
kepada Sdr Maryanto (08156899710) Seksi Pengembangan Kesiswaan, untuk
peserta pelajar sekolah, atau di Badan Informasi Daerah Kota Yogyakarta
Komplek Balaikota, phone 552161, kepada Sdr Ismawati untuk peserta umum.
Hasil karya poster dapat diserahkan secara perorangan atau kolektif
melalui sekolah masing-masing, dengan dilengkapi identitas diri di balik
karya. (nama, alamat, tempat tanggal lahir, tempat sekolah, nomor telpon
yang dapat dihubungi).
Penjurian akan dilaksanakan pada tanggal : 26, 27 dan 28 Maret 2008, pada
jam 08.00 – selesai di Sekretariat Sayembara, Kantor BID Kota Yogyakarta
oleh tim yuri dari unsur budayawan,  pendidikan, praktisi, media massa dan
pemerintah. Hasil penilaian tim yuri sayembara poster tidak dapat diganggu
gugat. Hasil penjurian berupa pemenang I, II, dan III setiap kelas
sayembara. Hasil karya yang diikutkan lomba menjadi milik Pemerintah Kota
Yogyakarta dan karya terbaik akan digunakan untuk kepentingan publikasi.
Pengumuman pemenang akan dilakukan pada hari Sabtu tanggal 29 Maret 2008
di BID dan media massa.

Contact Person Sayembara Poster :
Ibu Ismawati / Badan Informasi Daerah Kota Yogyakarta, Komplek Balaikota
Timoho
Telp. 552161 / 6501998

Written by idiel

March 4, 2008 at 10:58 am

Posted in News

Tagged with ,

Malioboro

without comments

Jalan Malioboro adalah nama jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta yang terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi dan Jalan Jend. A. Yani, Jalan ini merupakan poros Garis Imaginer Kraton Yogyakarta.

Terdapat beberapa obyek bersejarah di jalan ini antara lain Tugu Kraton, Stasiun Tugu, Gedung Istana Negara, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Jalan ini sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para Seniman-seniman-seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim dan lain-lain disepanjang jalan ini.

Written by idiel

March 4, 2008 at 10:15 am

Posted in News, Wisata

Tagged with ,

Angkringan Pak Man Stasiun Tugu

without comments

Angkringan Pak (Lik) Man, salah satu tempat di Yogyakarta yang banyak dikunjungi oleh mahasiswa, wartawan, seniman, budayawan, tukang becak, dan masih banyak lagi. sebagian besar orang jogja tau tempat ini dan bisa menunjukkan dimana, karena angkringan ini menjadi salah satu icon jogja.Angkringan Pak Man berada disebelah utara stasiun tugu, tepatnya disebuah jalan kecil sebelum menuju ke stasiun tugu/malioboro, maka anda akan menemukan deretan warung-warung kecil disebelah kiri jalan tersebut. Ke`khas’an dari angkringan adalah adanya dua buah bakul yang dibuhungkan dengan bambu, anglo dengan arang menyala, serta deretan gelas-gelas ukuran besar dan sedang yang disusun rapi. 

Angkringan Pak Man adalah salah satu angkringan tertua di jogja yang mana pedagangnya berasal dari klaten (salah satu daerah di jawa tengah yang berbatasan langsung dengan jogja). Pak Man atau nama aslinya adalah Siswo Raharjo, putra Mbah Pairo (pedagang angkringan pertama di jogja yang berjualan sejak tahun 1950-an). Warung yang dulu disebut “ting ting hik” diwariskan kepada Pak Man tahun 1969. Sejak itu, menjamurlah angkringan-angkringan lain di jogja.

Menu yang pasti ada adalah Nasi Kucing (sega kucing) berlauk oseng tempe dan sambal teri, jadah ketan, teh melati, gorengan, es tape dan yang favorit yaitu Kopi Joss. Kopi yang dihidangkan dalam keadaan panas yang diberi dengan arang. Menu ini lahir dari penelitian mahasiwa Universitas Gadjah Mada yang kebetulan sering nongkrong di angkringan Pak Man. Menikmati sego kucing yang selalu disajikan dalam keadaan hangat dengan lauk gorengan atau sate telur selain lezat juga tak menguras uang. Jika makanan yang didapat dalam keadaan dingin, anda bisa meminta penjual menghangatkannya dengan cara dibakar. Bila tak nyaman makan dengan bungkus nasi saja atau anda makan dalam jumlah banyak, penjual angkringan menyediakan piring untuk menyamankan acara makan anda.

Anda bisa memilih tempat duduk di dua tempat yang disediakan. Jika ingin berbincang dengan pedagang, anda bisa duduk di dekat bakul atau anglo. Selain dapat bercerita dengan Pik Man, duduk di dekat bakul akan mempermudah jika ingin tambah makanan. Tetapi bila ingin lebih berakraban dengan teman, anda bisa duduk di tikar yang digelar memanjang di trotoar seberang jalan. Tak perlu khawatir ruang yang tidak cukup sebab panjang trotoar yang digelari tikar hampir 100 meter.

Sambil duduk, anda diberi kebebasan untuk berbicara apapun. Orang-orang yang sering datang ke angkringan ini membicarakan berbagai hal, mulai tema-tema serius seperti rencana demostrasi dan tema edisi di majalah mahasiswa hingga yang ringan seperti kemana hendak liburan atau sekedar tertawaan tak jelas yang sering disebut dengan gojeg kere. Tak ada larangan formal, tetapi yang jelas perlu menjaga budaya angkringan, yaitu tepo sliro (toleransi), kemauan untuk berbagi dan biso rumongso (menjaga perasaan orang lain). Bisa diartikan tak perlu berebut tempat dan menghargai orang lain yang duduk berdekatan.

(disadur dari yogyes.com)

Written by idiel

March 4, 2008 at 10:02 am

Angkringan

with one comment

Angkringan (berasal dari bahasa Jawa ‘ Angkring ‘ yang berarti duduk santai) adalah sebuah gerobag dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang biasa terdapat di setiap pinggir ruas jalan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Sala dikenal sebagai warung hik. Gerobag angkringan biasa ditutupi dengan kain terpal plastik dan bisa memuat sekitar 8 orang pembeli. Beroperasi mulai sore hari, ia mengandalkan penerangan tradisional yaitu senthir, dan juga dibantu oleh terangnya lampu jalan.

Makanan yang dijual meliputi nasi kucing, gorengan, sate usus (ayam), sate telor puyuh, kripik dan lain-lain. Minuman yang dijualpun beraneka macam seperti teh, jeruk, kopi, tape, wedang jahe dan susu. Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau.

Meski harganya murah, namun konsumen warung ini sangat bervariasi. Mulai dari tukang becak, tukang bangunan, pegawai kantor, mahasiswa, seniman, bahkan hingga pejabat dan eksekutif. Antar pembeli dan penjual sering terlihat mengobrol dengan santai dalam suasana penuh kekeluargaan.

Angkringan juga terkenal sebagai tempat yang egaliter karena bervariasinya pembeli yang datang tanpa membeda-bedakan strata sosial atau SARA. Mereka menikmati makanan sambil bebas ngobrol hingga larut malam – meskipun tak saling kenal – tentang berbagai hal atau kadang berdiskusi tentang topik-topik yang serius. Harganya yang murah dan tempatnya yang santai membuat angkringan sangat populer di tengah kota sebagai tempat persinggahan untuk mengusir lapar atau sekedar melepas lelah.

Written by idiel

March 4, 2008 at 9:40 am

Posted in Tempat Makan, Wisata

Tagged with ,